Bandar Lampung - Dinas Kesehatan Bandar Lampung menggelar penyelidikan epidemiologi sebagai langkah utama dalam pengendalian demam berdarah dengue (DBD) sepanjang 2025. Setiap laporan temuan kasus langsung mendorong petugas kesehatan untuk turun ke lapangan dan melakukan penelusuran sumber penularan.
Kepala Dinas Kesehatan Bandar Lampung Muhtadi A. Temenggung menyampaikan bahwa tim surveilans selalu bergerak cepat setelah menerima laporan kasus DBD. Petugas menelusuri riwayat penderita, memetakan lingkungan sekitar rumah, serta mengidentifikasi potensi sarang nyamuk Aedes aegypti.
Muhtadi menjelaskan, penyelidikan epidemiologi menjadi dasar utama dalam menentukan langkah pengendalian berikutnya. Dinas Kesehatan menggunakan hasil penyelidikan tersebut untuk menilai tingkat risiko penularan dan kebutuhan intervensi lanjutan di lingkungan warga.
“Setiap ada temuan kasus DBD, tim kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi. Langkah ini menentukan apakah wilayah tersebut memerlukan tindakan tambahan seperti fogging,” ujar Muhtadi, Rabu, 7 Januari 2026.
Selain penelusuran kasus, petugas kesehatan juga memberikan edukasi langsung kepada warga sekitar. Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat agar menerapkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui kegiatan menguras dan menutup tempat penampungan air serta mengubur barang bekas yang berpotensi menampung air atau 3M.
Muhtadi menegaskan, fogging bukan langkah utama dalam pencegahan DBD. Dinas Kesehatan hanya melaksanakan fogging ketika hasil penyelidikan epidemiologi dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan kasus positif serta risiko penularan tinggi di lingkungan sekitar.
“Penyelidikan epidemiologi menjadi kunci. Dari situ kami menentukan tindakan yang tepat dan terukur,” kata Muhtadi.
Data Dinas Kesehatan menunjukkan tren kasus DBD di Bandar Lampung terus menurun sepanjang 2025. Pada Januari tercatat 58 kasus, kemudian menurun secara bertahap hingga mencapai angka terendah pada Desember dengan sembilan kasus.(lmps)

0Komentar