GprlTpOoTSApGSM8GUz0BSY0Gi==
Breaking
News

Di Balik Viral Larangan Bawa Tumbler, Ini Pentingnya Air Putih Selalu Tersedia

Ukuran huruf
Print 0


Jakarta - Di media sosial, perbincangan soal restoran atau rumah makan yang melarang pelanggan membawa tumbler belakangan ramai menuai pro dan kontra. Sebagian menilai aturan tersebut tidak ramah lingkungan, sementara yang lain mempertanyakan alasannya dari sisi kebersihan.

Di balik polemik itu, satu hal kerap luput dibahas: kebiasaan membawa air sendiri sebenarnya lahir dari kebutuhan tubuh yang sangat mendasar, yakni kebutuhan untuk minum air secara rutin sepanjang hari.

Dalam aktivitas harian yang padat, tubuh terus kehilangan cairan, bahkan tanpa disadari. Rasa haus tidak selalu muncul tepat waktu, sehingga banyak orang memilih membawa air putih sendiri agar bisa minum kapan saja, termasuk setelah makan.

Air putih pun menjadi pilihan utama karena paling sederhana, mudah diterima tubuh, dan tidak menambah asupan gula atau kalori berlebih. Kebiasaan ini bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan bentuk adaptasi terhadap kebutuhan fisiologis tubuh yang bekerja tanpa henti, baik saat beraktivitas di luar rumah maupun ketika makan di restoran.

Kenapa Air Putih Jadi Kebutuhan?

Untuk memahami kenapa kebiasaan ini muncul di banyak orang, penting melihatnya dari sisi kebutuhan biologis tubuh.

Air merupakan komponen utama tubuh manusia dan berperan penting dalam menjaga berbagai fungsi fisiologis dasar. Kandungan air dalam tubuh tidak bersifat tetap, melainkan dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, serta komposisi tubuh, terutama perbandingan massa otot dan lemak.

Kajian oleh Wang dkk. yang dipublikasikan dalam Journal of Nutrition menunjukkan bahwa air menyusun sekitar 73 persen dari fat-free mass atau massa tubuh bebas lemak. Jika dihitung terhadap total berat badan, kandungan air pada orang dewasa umumnya berada pada kisaran sekitar 50-60 persen, dengan proporsi yang lebih tinggi pada individu yang memiliki massa otot lebih besar.

Temuan ini menegaskan bahwa air bukan sekadar cairan pelengkap, melainkan bagian struktural utama tubuh manusia.

Karena air terus dikeluarkan dari tubuh melalui urine, keringat, dan pernapasan sepanjang hari, kebutuhan cairan bersifat harian dan harus dipenuhi secara rutin. Dalam literatur ilmiah, kebutuhan cairan tidak dinyatakan per waktu makan, melainkan sebagai total asupan harian.

Kajian kebutuhan air yang banyak dijadikan rujukan menyebutkan bahwa asupan cairan total pada orang dewasa berada di kisaran:

sekitar 2,7 liter per hari untuk perempuan
sekitar 3,7 liter per hari untuk laki-laki
Jumlah ini mencakup cairan yang berasal dari minuman maupun makanan.

Jika dikonversikan dengan asumsi 1 gelas standar sekitar 200-250 ml, kebutuhan tersebut setara dengan:

sekitar 11-13 gelas air per hari untuk perempuan
sekitar 15-18 gelas air per hari untuk laki-laki


Minum Air Tidak Harus Menunggu Haus, Ini Alasannya

Rasa haus sering dianggap sinyal utama tubuh membutuhkan air. Padahal, mekanismenya tidak sesederhana itu.

Secara fisiologis, haus merupakan respons yang relatif terlambat terhadap kekurangan cairan. Artinya, ketika rasa haus muncul, tubuh sebenarnya sudah mulai mengalami defisit cairan.

Ulasan ilmiah oleh Armstrong dalam Journal of the American College of Nutrition menjelaskan bahwa mekanisme haus baru aktif setelah terjadi penurunan volume cairan tubuh dan peningkatan osmolaritas darah. Pada tahap ini, tubuh mulai bekerja lebih keras untuk mempertahankan keseimbangan cairan.

Kekurangan cairan ringan saja dapat berdampak langsung pada energi dan fungsi kognitif. Studi oleh Popkin dkk. dalam Nutrition Reviews menunjukkan bahwa dehidrasi ringan dapat menurunkan kapasitas fisik dan mental, membuat tubuh terasa lebih cepat lelah, sulit fokus, dan menurunkan performa aktivitas harian.

Secara fisiologis, saat tubuh kekurangan cairan, jantung harus memompa lebih keras untuk menjaga aliran darah, sementara otak menjadi lebih sensitif terhadap perubahan keseimbangan cairan. Kondisi ini menjelaskan mengapa tubuh bisa terasa lelah atau "tidak enak badan" meski belum merasa haus.

Angka ini tidak perlu dipenuhi sekaligus, melainkan dibagi sepanjang hari. Karena tubuh kehilangan cairan secara terus-menerus, membagi asupan air secara berkala termasuk setelah makan membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh tetap stabil.

Dari sini, wajar jika tubuh "menuntut" minum secara rutin, bahkan sebelum rasa haus muncul. (dtkh)
Di Balik Viral Larangan Bawa Tumbler, Ini Pentingnya Air Putih Selalu Tersedia
Periksa Juga
Next Post

0Komentar

Tautan berhasil disalin