Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita Usia 6–59 Bulan di Indonesia Menurun

Vitamin A adalah salah satu zat gizi penting yang larut dalam lemak, disimpan dalam hati, dan tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari luar tubuh. Kekurangan Vitamin A (KVA) dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh balita serta meningkatkan risiko kesakitan dan kematian. Kekurangan Vitamin A juga merupakan penyebab utama kebutaan pada anak yang dapat dicegah.


Dalam lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2015 dinyatakan bahwa untuk mengurangi risiko kesakitan dan kematian pada balita dengan kekurangan Vitamin A, pemerintah menyelenggarakan kegiatan pemberian Vitamin A dalam bentuk kapsul vitamin A biru 100.000 IU bagi bayi usia enam sampai dengan sebelas bulan, kapsul vitamin A merah 200.000 IU untuk anak balita usia dua belas sampai dengan lima puluh sembilan bulan, dan ibu nifas.

Menurut Panduan Manajemen Suplementasi Vitamin A, pemberian suplementasi Vitamin A diberikan kepada seluruh balita umur 6-59 bulan secara serentak melalui posyandu yaitu; bulan Februari atau Agustus pada bayi umur 6-11 bulan serta bulan Februari dan Agustus pada anak balita 12-59 bulan.

Pada tahun 2015 cakupan pemberian Vitamin A pada balita 6-59 bulan di Indonesia sebesar 83,5%, sedikit menurun dibandingkan tahun 2014 yang sebesar 85,4%. Dari 31 provinsi yang melapor, sebelas provinsi di antaranya (35%) telah mencapai cakupan pemberian Vitamin A 90%. Cakupan pemberian Vitamin A pada balita 6-59 bulan tertinggi yaitu DI Yogyakarta sebesar 98,8% dan terendah di Sumatera Utara sebesar 53,2%.

Menurut sasarannya, cakupan pemberian Vitamin A pada bayi 6-11 bulan sebesar 75,4% dengan kisaran 16,4% (Sumatera Utara) sampai 99,3% (DI Yogyakarta). Sedangkan pemberian Vitamin A pada anak 12-59 bulan sebesar 84,9% dengan kisaran antara 55,3% (DKI Jakarta) sampai 98,7% (DI Yogyakarta). Besarnya cakupan Vitamin A antara lain disebabkan kondisi geografis dan keterjangkauan akses menuju lokasi posyandu dalam pendistribusian Vitamin A. Provinsi yang memiliki cakupan Vitamin A yang tinggi, cakupan penimbangan balita di posyandu juga tinggi. Begitu pula sebaliknya, provinsi yang memiliki cakupan Vitamin A yang rendah seperti Papua dan Papua Barat disebabkan oleh tingkat partisipasi masyarakat dalam penimbangan balita di posyandu (D/S) juga rendah karena kendala geografis. Pemberian kapsul Vitamin A pada provinsi DKI Jakarta dan Sumatera Utara sangat rendah dikarenakan pencatatan dan pelaporan yang tidak lengkap. Tidak semua kegiatan di wilayah tersebut dilaporkan, termasuk kegiatan sweeping pemberian kapsul Vitamin A oleh tenaga kesehatan.

Sumber: Ditjen Kesehatan Masyarakat, Kemenkes RI, 2016

Back To Top